Ramadan adalah bulan paling mulia dengan segala keistimewaan yang ada padanya. Di dalam bulan ini, Allah Swt. menjadikan banyak sekali momen-momen istimewa yang merupakan kesempatan beramal shalih paling menguntungkan. Kita mengetahui bahwa di dalam Ramadan ada kewajiban berpuasa,
فال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أتاكم شهر رمضان شهر مبارك, كتب الله عليكم صيامه، تفتح فيه أبواب الجنة، وتغلق فيه أبواب الجحيم، وتغل فيه مردة الشياطين، وفيه ليلة هي خير من ألف شهر، من حُرِم خيرها فقد حرم (رواه النسائي والبيهقي وأحمد)
Rasulullah Saw. bersada, "Telah datang kepada kalian bulan Ramadan. Bulan yang penuh berkah. Di dalamnya, Allah mewajibkan puasa bagi kalian, pintu-pintu Surga dibuka lebar, pintu-pintu Neraka ditutup rapat, setan-setan dibelenggu. Di dalamnya juga terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan; barang siapa yang tidak mendapatkan kebaikannya, sungguh ia tidak mendapatkan kebaikan (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, dan Al-Nasâ'i)."
Rasulullah Saw. selalu memberi kabar gembira kepada para sahaba setiap kali Ramadan tiba. Di antara kabar gembira itu adalah hadis di atas. Allah Swt. menjadikan bulan ini istimewa bagi setiap hamba-Nya. Baik hamba-Nya itu ahli takwa maupun ahli maksiat. "Yâ bâgil khairi aqbil, wayâ bâgisy syarri aqshir" (Wahai pegiat kebaikan, perbanyaklah kebaikanmu! Wahai pecandu keburukan, kurangilah keburukanmu!).
Allah berfirman, "Warabbuka yakhluqu mâ yasyâ'u wayakhtâr" (Dan Rabb-mu menciptakan segala yang Dia kehendaki dan memilihnya bagi siapa yang dikehendaki). Allah Swt. telah memilih Makkah sebagai tempat yang paling mulia di antara tempat-tempat lain di muka bumi. Allah telah memilih Muhammad Saw. sebagai Nabi dan Rasul paling mulia di antara para Nabi dan Rasul. Allah telah memilih hari Jumat sebagai hari yang paling mulia di antara hari-hari yang lain. Demikian halnya dengan bulan, Allah telah memilih Ramadan sebagai bulan yang paling mulia dan paling istimewa di antara bulan-bulan yang lain.
Jika kita mentadaburi Al-Quran, ada satu hal unik di antara keunikan-keunikan Al-Quran yang tiada terbatas. Keunikan itu adalah, Ramadan merupakan satu-satunya bulan yang namanya disebut dalam Al-Quran. Ini mengisyaratkan Ramadan sangat istimewa. Sebagaimana satu-satunya nama perempuan yang disebut dalam Al-Quran adalah Sayyidah Maryam. Rasulullah menyabdakan bahwa Sayyidah Maryam adalah salah satu wanita paling mulia yang telah mencapai derajat kesempurnaan.
Ramadan adalah bulan paling mulia dengan segala keistimewaan yang ada padanya. Di dalam bulan ini, Allah Swt. menjadikan banyak sekali momen-momen istimewa yang merupakan kesempatan beramal shalih paling menguntungkan. Kita mengetahui bahwa di dalam Ramadan ada kewajiban berpuasa, sedang Allah tidak mewajibkan puasa di bulan-bulan lain. Pada bulan Ramadan pintu surga terbuka lebar, pintu neraka dikunci rapat, setan-setan dibelenggu, pahala kebaikan dilipatgandakan; pahala amalan sunnah bagaikan amalan wajib, pahala satu amalan wajib seperti pahala tujuh puluh amalan wajib.
Pada bulan tersebut juga diturunkan Al-Quran sehingga bulan Ramadan lazim disebut dangan Syahrul Qur'ân (Bulan Al-Quran). Di dalamnya disyariatkan shalat tarawih, i’tikaf, dianjurkan banyak bersedekah, banyak membaca Al-Quran dan sebagainya. Juga terdapat malam Lailatul Qadar yang jika diisi dengan kabaikan, pahalanya lebih banyak dari pahala amalan yang dilakukan seribu bulan. Betapa meruginya orang yang hanya mengisinya dengan tidur atau melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat pada malam itu, karena ia seolah-olah telah tidur dan tidak berbuat kebaikan selama lebih dari seribu bulan.
Melihat begitu banyaknya keistimewaan bulan Ramadan ini, tidak heran jika Rasulullah Saw. bersabda, "Khâba wa khasir man adraka Ramadhâna walam yughfar lahu“ (Sungguh sangat merugi orang yang melewati Ramadan sedang ia tidak diampuni). Jika momen Ramadan yang sangat istimewa ini, tidak mampu dimanfaatkan dalam kebaikan untuk mendapatkan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari Neraka, maka bagaimana lagi dengan bulan-bulan selain bulan Ramadan?
Mungkin ada orang yang bertanya, apa hikmah Allah menjadikan Ramadan begitu Istimewa? Rasulullah Saw. mengabarkan bahwa catatan amal tahunan manusia ditutup dan dilaporkan kepada Allah pada bulan Sya’ban. Oleh karena itu, Beliau sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah di bulan Sya’ban agar akhir dari lembar kehidupannya berakhir dengan kebaikan (husnul khâtimah). Sebaliknya, seorang mukmin tentu tidak ingin menutup lembaran akhir buku kehidupannya, sedang dia dalam keadaan bermaksiat dan sangat jauh dari Allah Swt..
Jika Sya’ban merupakan bulan penutup lembaran lama kehidupan setiap muslim, maka Ramadan tentunya merupakan bulan pembuka lembaran baru kehidupannya. Di sinilah terlihat hikmah mengapa Ramadan merupakan bulan rahmat. Sungguh sebuah nikmat dan rahmat yang besar, Allah Swt. menjadikan umat Islam membuka buku catatan amalnya dengan bulan yang mulia ini, di mana mereka dapat menggores pena amalnya untuk memenuhi lembaran hidup barunya dengan catatan amal yang banyak.
Karena awal yang baik adalah isyarat akhir yang baik pula. "Man kânat lahû bidâyah muhriqah kânat lahû nihâyah musyriqah."
Maka, bersegeralah wahai kaum yang beriman untuk kita manfaatkan bingkisan dan kado surgawi ini dengan sebaik-baiknya. Agar kita keluar dari bulan Ramadan seperti bayi yang baru lahir; bersih dari noda dan dosa. Sehingga kita bisa memulai hidup baru dengan lembaran baru, semangat dan tekad yang baru.
Janganlah biarkan diri merugi, sebab jika Ramadan saja kita sia-siakan, bagaimana lagi dengan bulan yang lain? "Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran." Wallâhu a‘lam.
Oleh: Lalu Heri Afrizal. Lc.
Sumber : http://www.eramuslim.com/
Entri Populer
-
Rasa hati deg-degan adalah wajar bila laki-laki medapat perhatian dari lawan jenis, apapun bentuknya dan sekecil apapun bentuk perhatian. Li...
-
FLV merupakan salah satu format video yang populer sekarang ini. Digunakan untuk streaming video yang dipakai oleh layanan video sharing sep...
-
Bagi Si Pembawa Ember, mencari uang berarti memikul ember sudah sulit merubah pandangan hidupnya (mind set-nya) , tidak ada cara lain yang l...
-
Sebelum menjalankan ibadah Ramadhan, ada beberaa hal yang perlu dipahami. Di antaranya : 1. Shaum Ramadhan adalah rukun Islam yang keempat...
-
imageAda menyeruak perhatian yang begitu besar terhadap kekuatan membaca Al-Qur'an, dan yang terlansir di dalam Al-Qur'an, dan penga...
-
Sulit bagiku tuk jatuh cinta Sulit pula bagiku mengucapkan cinta Tapi aku tak mampu membohongi hatiku bahwa sosokmu kian hadir dalam a...
-
Apa perbedaan dari pengobatan cara Alophatik (suatu cara pengobatan yang bertujuan membunuh penyakit dengan menggunakan obat-obatan atau o...
-
Mei lalu, warga Kampung Talunkacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kabupaten Semarang, diberitakan merasa sangat terganggu oleh k...
-
Suatu ketika seorang lelaki mohon kepada Tuhan sekuntum bunga dan seekor kupu-kupu namun Tuhan malah memberinya sebonggol kaktus .... dan se...
-
Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, "Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuan...
Total Tayangan Halaman
Senin, 31 Agustus 2009
RAMADHAN BULAN PENUH RAHMAT DAN BERKAH
Minggu, 30 Agustus 2009
PUASA ITU MADRASAH
MANUSIA diciptakan ke muka bumi ini tidak lain untuk beribadah kepada Allah SWT. Namun, manusia harus mengetahui fungsi dan peranan ibadah itu sendiri. Bila tidak mengerti, ibadah itu akan dianggap sebagai beban, bukan sebagai kebutuhan.
”Ramadan itu merupakan madrasahnya muslimin. Saat sekolah, manusia harus mampu menunjukkan prestasinya agar naik kelas. Begitu juga pada bulan puasa,” tutur Syeh Soleh Muhammad Basalamah, Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes.
Menurut dia, dalam Ramadan ada proses pembelajaran yang dilakukan secara tertata, dengan jam pelajaran yang telah ditentukan. Contoh kecil ketika belum baligh, ibadah puasa hanya sekadar menahan haus dan lapar. Setelah dewasa, tentu harus ditambah dengan amalan-amalan soleh.
Tahun lalu, dalam satu Ramadan hanya hatam Alquran sekali, maka tahun ini harusnya hatam Alquran dua kali, dan seterusnya. Bagi orang dewasa harus ditambah sadaqah.
”Nilai-nilai ibadah itu, akan diganjar positif ataupun negatif langsung oleh ’sang guru agung’, Allah SWT. Sebagai pribadi muslim, harus introspeksi diri di setiap Ramadan,” ujarnya.
Bertambah Ilmu Menurut dia, di bulan Ramadan setiap muslim diharapkan bisa bertambah ilmunya. Sekarang sedang duduk di kelas berapa, maka ilmu dan amalnya harus diseimbangkan.
Ibarat menanam pohon, bertambah tahun maka akan semakin tumbuh, berbuah dan panen. ”Ketika kita mencapai derajat taqwa, maka kita dikategorikan sebagai hamba yang berhak panen, fitrah di Hari Raya,” ungkapnya.
Dia menambahkan, pada dasarnya Allah SWT tidak butuh ibadah manusia. Allah SWT hanya memberi rambu-rambu alias petunjuk. Manusia beribadah, tidak lain agar hidupnya bisa berubah dalam segala aspek. Beberapa ayat menjelaskan, bila shalat maka akan dijauhkan dari sifat nahi dan mungkar. Bila shadaqah maka akan ditambah rezekinya dan bila puasa maka akan ditingkatkan derajat taqwanya. (Bayu Setiawan-61)
Sumber : http://www.suaramerdeka.com/
Sabtu, 29 Agustus 2009
PUASA SEHATKAN JASMANI
’’Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya selain Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.’’ (QS Al-An’aam : 17)
SEMUA orang pasti menginginkan sehat. Tapi sering orang melupakan arti kesehatan itu sendiri. Kita merasakan nikmat sehat, apabila sedang mengalami sakit. Sabda Rasulullah SAW: ni’mataani maghbubaani, al-shihhah wa al-faraagh (dua nikmat yang dilupakan oleh manusia, yakni sehat dan senggang). Untuk menciptakan kesehatan, Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berpuasa.
Ada sementara orang yang bertanya, “Untuk apa sih, puasa?” Ada pula yang tidak mau berpuasa dengan alasan sakit maag, dan seterusnya, sehingga Ramadan dilalui dengan sia-sia. Mengapa demikian? Karena dia belum tahu manfaat berpuasa. Kalau saja dia tahu dan mau mencoba, maka dia bisa ketagihan untuk berpuasa. Puasa itu sebenarnya mengandung manfaat kesehatan yang luar biasa. Ia melampaui kesehatan fisik manusia, ia mampu menyelesaikan problem kesehatan fisik dan mental sekaligus.
Shirley Ross dalam bukunya ”Fasting The Super Diet”, menyatakan bahwa puasa membawa pertukaran metabolisme, yang sering tidak disadari oleh yang berpuasa itu sendiri, yaitu pertukaran metabolisme eksternal ke metabolisme internal.
Dalam sistem ini badan justru bekerja lebih giat, karena harus mengatur sendiri dan tidak tergantung pada sumber energi yang masuk. Sistem demikian berpengaruh pada otak, rasa lapar justru menimbulkan rasa senang dan bahagia. Dengan perasaan ini, orang yang berpuasa akan merasa sehat secara optimal, yakni secara fisik, psikis, moral, sosial, dan spiritual. Sehat fisik artinya tidak terdapat gangguan sakit apa pun yang dirasakan jasmani. Sehat psikis, jiwa yang terbebas dari gangguan stes, depresi, dan sebagainya. Sehat secara moral, menampilkan perilaku yang normal dan wajar: jujur, tawakal, sabar, dan sebagainya. Sehat secara sosial, sehat dalam hubungan kemasyarakatan: terbuka, suka bergaul, dan penuh kasih sayang. Dan sehat secara spiritual ialah sehat agamis, mampu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan baik dan benar.
Demikian besar manfaat puasa dalam kehidupan kita, terutama kesehatan. Dengan kesehatan, kita bisa melakukan apa saja. Sebaliknya, kalau sakit, apa saja menjadi tidak enak. Bahkan makan makanan favorit saja terasa pahit. Nah, itulah manfaatnya puasa. Jadi tidak ada alasan seeorang untuk tidak berpuasa. Benarlah sabda Nabi Muhammad SAW: Shuumuu tashihhu (puasalah kamu, akan menyehatkan).
Faktor Sehat
Khususnya kesehatan jasmani, ada sementara yang menyatakan karena ada dua faktor, yakni pola hidup dan pola makan. Pola hidup akan menyebabkan sakit psikis yang umumnya menimpa sebagian masyatakat era modern. Era ini mempunyai manfaat yang besar bagi kehidupan umat manusia, namun di sisi lain membawa akibat buruk, seperti kecenderungan berpikir rasional dan materialis. Akibatnya munculnya kegelisahan, seperti stres dan depresi, yang sesungguhnya keduanya tidak harus dihilangkan, tetapi dikelola dengan baik.
Faktor kedua ialalah pola makan. Islam melalui sabda Rasulullah SAW: Nahnu qaumun laa na’kulu hatta najuu’a, wa idzaa akalnaa laa nasyba’ (saya adalah sekelompok orang, tidak makan kecuali lapar dan apabila makan, tidak terlalu kenyang). Di sini ada unsur pengendalian makan. Perut tempat menampung segala makanan, sedangkan pikiran dan perasaan merupakan sumber ketegangan. Nabi Muhammad SAW bersabda: Al-ma’iddatu baitudda’ wa al-himyatu ra`su killi dawaa’ (perut adalah sumber penyakit dan obat yang paling manjur ialah diet).
Dengan berpegang pada prinsip diet ini, maka puasa adalah salah satunya. Banyak pengalaman yang menunjukkan bahwa dengan puasa seseorang teman saya yang sakit gula (diabetes mellitus), yang oleh dokter diperintah untk memotong jari-jarinya, tetapi dia tidak mau, dia justru sembuh dengan puasa Dawud (sehari puasa, sehari tidak puasa).
Ada juga teman yang terkena gejala sakit maag, secara logis, dia harus makan, tetapi dia pergunakan untuk berpuasa, Alhamdulillah, subhaanallah justru sembuh dari sakit maagnya. Survei membuktikan bahwa orang yang sedang berpuasa tidak tertarik dengan makanan di siang hari, maka produk asam lambung akan mengecil.
Sakit apa pun (kecuali luka) berpangkal pada hati. Ia mempunyai peran yang tidak kecil dalam masalah kesehatan. Sabda Rasul: “Ketahuilah bahwa dalam diri manusia ada segumpal daging, apabila dia baik, maka baiklah seluruh tubuh dan apabila rusak, maka rusaklah seluruh tubuh, itulah hati”.
Bagi pasien penderita sakit, ketenangan hati (psikis) sangat dibutuhkan, dan akan lebih memudahkan bagi proses penyembuhan. Motivasi-motivasi yang menumbuhkan ketenangan, rasa sabar dan semangat hidup yang tinggi akan membantu menguatkan jaringan. Dalam dunia kesehatan dikenal psiko-neuro-endokrinologi sehingga memudahkan tubuh dalam memproses obat-obatan yang diberikan guna pemulihan kesehatan. Wallahu a’lam bish shawab. Semoga bermanfaat.(62)
Sumber : http://www.suaramerdeka.com/
Jumat, 28 Agustus 2009
SAYA INGIN MENYAMPAIKAN SESUATU
Assalamu`alaikum wr.wb..
Saya ingin menyampaikan sesuatu yg selama ini cukup mengganggu saya, semoga tulisan ini bisa membuat lega hati saya, dengan harapan akan dapat pencerahan. Selama ini saya selalu terganggu dengan keberadaan saya, sebetulnya saya malu mengungkapkan karena ini sebetulnya masuk ke ranah pribadi, dan saya sudah berusaha menahan isi hati ini, tapi ternyata saya belum mampu.
Apa kabar sahabat. Mudah2an sahabat senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, tak terasa tanggal 11 September 2009 nanti bertepatan dengan ulang tahun saya genap 1 tahun saya mendapat anugerah sakit seperti ini.
Sebenarnya saya sudah tidak sabar ingin segera masuk kerja dan aktif lagi, sih… Ingin mulai beraktivitas seperti dulu, bertemu teman, melayani mereka, menulis laporan, membuat proposal, terlibat dalam proses asesmen, perjalanan ke luar kota, dll. Tapi para senior menyatakan dengan tegas, “Istirahat aja dulu, biar pulihnya total. Tenang aja, ntar juga akan datang waktunya akan dibantai abis sama kerjaan…” Hehehe… I really miss that day. Kok bisa, ya?. Teman-teman yang lain pun sama senada.
Eiits… jangan salah. Tentu saja termasuk juga di dalamnya ‘keindahan’ yang lain seperti update berita terakhir (mirip-mirip dengan bergosip, tapi konon kabarnya sih untuk tujuan mulia…), saling nyela dengan tega, dan tak ketinggalan: aneka hidangan khas seputaran warung pojok. Tentang hal terakhir ini, saya benar-benar kangen dengan singkong goreng yang merekah di pagi hari, nasi soto, blablabla… Belum lagi kalau ditambah dengan penganan yang dibawa dari rumah (kadang saya bawa bekal sendiri).
Nikmat luar biasa? Mungkin relatif. Sepertinya rasa cihuy itu datang dari ritual sharing yang secara tak tertulis berlaku. Sarapan semangkuk nasi soto dan segelas teh tawar Benar-benar finger lickin’ good!. Bisa jadi ini sangat membantu untuk meringankan beban syaraf, sehingga lebih rileks. Kesulitan dan ketegangan bukan tidak ada. Tantangan tugas, adaaa saja. Siapa takut? Hajar bleh…
Serius, deh. Saat ini saya benar-benar kangen beraktivitas itu. Satu lagi nikmat dariNya buat saya: sahabat-sahabat, para senior dan lingkungan yang sangat menyenangkan. Seperti keluarga besar buat saya, dengan pembelajaran dan pengembangan diri yang dinamis. Peran mereka sangat signifikan dalam membantu perjuangan saya dan keluarga, saat berjibaku lebih dari 11 bulan ini, di rumah sakit juga di rumah. Mereka ada di saat perasaan 1001: cemas, lega, marah, sedih, jenuh, berharap, pesimis, kecewa, dan seterusnya.
Sahabat, saya sekarang ini benar2 sedang merasa bingung dan terpuruk, merasa kalut banget akan masalah yang sedang saya hadapi. Saya bingung, masalah yang saya hadapi sekarang rumit banget, dan benar2 membutuhkan orang yang memang mengerti tentang ini.
Begini.
Setiap orang pasti pernah mengalami saat-saat sulit dalam menjalani kehidupannya. Kadang kesulitan itu memang membuat seseorang frustasi, bingung, stres, panik, putus asa dan sikap negatif lainnya. menyebabkan mereka gampang gelisah, tegang, dan marah. Mereka menjalani kehidupan ini dengan beban masalah dan tekanan batin yang luar biasa beratnya, sehingga menjauhkan mereka dari kebahagiaan hidup. Seperti yang saya alami ini bagaimana tidak, dalam kondisi sakit tak berdaya seperti ini saya masih harus menanggung beban keluarga yang cukup besar.
Mungkin gak perlu di tanya, bagaimana keadaan keluarga saya saat ini. Sekarang keluarga saya sedang sakit dalam artian bukan sakit fisik, tapi lebih kepada batin. Kebetulan mereka semua (anak-anak) masih butuh biaya yang banyak (untuk biaya transportasi dan uang sekolah anak, bayar listrik, PAM, telepon, dll) sementara saya sudah tidak ada pemasukan penghasilan, dan tabungan saya sudah habis pada bulan ke 4 semenjak sakitnya saya.
Allahuakbar, Allah Maha Besar, Maha Suci Allah, saya masih diberi kekuatan untuk gak melakukan hal2 yang dimurkai Allah dan akhirnya saya bersama keluarga saya sepakat, dan sama2 ber-komitmen untuk menjalani kehidupan ini dengan apa adanya.
Akhirnya dengan berat hati, walaupun sulit memutuskan, tapi Alhamdulillah keluarga saya akhirnya memberi restu kepada saya untuk menjual apapun yang bisa kami jual untuk mempertahankan kehidupan ini.
Apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya benar2 bingung sekarang. Saya kalut banget. Saya saat ini cuma bisa berlindung dibalik do'a, dan itupun jujur saja belum bisa membuat hati saya lebih tenang. Mungkin saya bener2 harus belajar dengan apa yg namanya "IKHLAS". Tapi saya benar2 sulit menerima ini semua. Sudah hampir 3 bulan ini saya sangat terpuruk sekali. Kalau obat memang saya pilih tidak menebus karena harganya mahal dan tidak terbeli (yang ditanggung askes hanya obat tertentu saja), tapi untuk kebutuhan pokok seperti beli beras sudah tidak mungkin saya lakukan (gaji saya minus / bisa di cek pada bendaharawan gaji, insentif dan lauk pauk ataupun penerimaan lain mulai januari 2009 kemarin sudah tidak lagi saya dapat) jadi saya menjalani hidup tanpa pendapatan, tanpa pemasukan, tanpa uang sesenpun, tanpa tabungan sedikitpun (bahkan sudah di close / ditutup pihak bank karena lama tidak terisi) sulit bagi saya untuk melakukannya apalagi sudah tidak ada barang lagi yang bisa saya jual (terakhir motor anak saya yang tiap hari digunakan untuk berangkat dan pulang kuliah / saya jual setelah sekian kali hanya mampu membayar bunga dan denda karena tidak berdaya untuk menebusnya).
Saya takut banget sekarang ini, takut akan adanya 1001 pengaruh dari luar yang dapat menggoyahkan pendirian keluarga saya akan komitmen kami sebelumnya.
Mohon pencerahan dan petunjuk akan apa yang harus saya lakukan sekarang. Sudah terlalu lama saya menunggu kesembuhan penyakit saya yang tak kunjung datang, apakah kesabaran saya akan membuahkan hasil yang baik?
Tiap sholat saya selalu meneteskan air mata, saya merasa hina banget di hadapan sang khalik, saya merasa berdosa sekali. (saat ini saya hanya bisa sholat sambil duduk)
Saya banyak2 berdoa sama Allah SWT, mudah2an tetap diberi kesabaran, dan semoga Yang Maha Kuasa memudahkan saya untuk tetap dapat membina sebuah keluarga yang shakinah, mawadah, warohmah, sebuah keluarga yg Engkau ridhai ya Allah. Amien ya Robbal'Alamin.
Saya juga begitu takut kuliah & sekolah anak2 saya, tiba2 berhenti ditengah jalan mengingat per-ekonomian keluarga saya yang melemah, sehingga saya harus kehilangan cita2 saya, Allhamdulillah saudara dan tetangga ada saja yang memberi beras ataupun sayur, walaupun bisa makan, tapi yang jelas saya sekeluarga menanggung beban dan malu dengan semuanya.
Saat ini yang saya lakukan hanya tetap Percaya dan Mengucap Syukur Apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini, Saya yakin dan percaya bahwa Allah senantiasa turut bekerja untuk melepaskan saya dalam setiap kesulitan dan penderitaan. Sehingga dengan keyakinan tersebut saya bisa selalu mengucap syukur atas segala perkara yang terjadi dalam kehidupan saya.
Keyakinan atau iman inilah yang membuat saya terus bergerak, selangkah demi selangkah meskipun saya tidak bisa melihat ke mana arah jalan hidup saya menuju. Keyakinan akan pernyataan Allah memberi saya kekuatan untuk bergerak. Janji-Nya bahwa segala sesuatu adalah untuk mendatangkan kebaikan memberi saya harapan bahwa setiap langkah saya — sekecil apa pun – semakin mendekatkan diri saya pada rencanaNya yang terbaik untuk saya.
Kesulitan dan penderitaan janganlah membuat kita berhenti dan menyerah, karena jika kita berhenti maka berarti kematian.
Saya terus berusaha maju selangkah demi selangkah. Saya menyadari berhenti berarti kematian bagi saya (ingat bahwa putus asa dan menyerah sama dengan kematian secara mental!). Dengan kombinasi antara prinsip terus bergerak (kalau tidak berarti mati) dan keyakinan akan pernyataan Allah dan janji kebaikan bagi kita saya terus melangkah satu per satu sampai akhirnya saya menemukan tempat atau kebaikan yang dijanjikanNya.
Kemudian sayapun merenung ……
Apa yang sesungguhnya yang membedakan seorang yang sukses dengan orang rata-rata? Bukan karena kepandaian, kekuatan, ataupun kekayaan yang dimilikinya, tetapi yang membuat seseorang sungguh-sungguh hebat adalah karena mereka mengetahui bagaimana caranya menanggung penderitaan yang tak terperikan dan bagaimana menahan beban yang tak tertanggungkan.
Marhaban ya Ramadhan. Marilah kita memohon ridho-Nya dalam bulan suci ini. Selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon maaf lahir dan batin.
Mohon pencerahan-nya sahabat. Saya bingung sekali saya harus bercerita kepada siapa lagi. Mohon maaf yang sebesar-besar nya apabila sahabat sedikit terganggu karena curahan hati saya yang kepanjangan, mudah2an sahabat selalu diberi kemudahan sama Allah SWT, amien. Terima kasih, sahabat.
wasallammu`alaikum wr. wb
Semarang, akhir Agustus 2009
Saya yang sedang sakit
NB : mohon maaf dengan sangat untuk jangan dipublikasikan kepada pihak manapun …
MANAJEMEN RAMADHAN ROSULLULLAH
Agar Ramadhan menjadi bulan rahmat, ampunan dan keselamatan dari neraka maka momentum yang penuh berkah ini perlu dijadikan sebagai momentum Training Manajemen Syahwat, dan sekaligus menjadi Training Manajemen Ibadah. Inilah yang dilakukan Rasul Saw. Sebab itu, kita perlu menelusuri bagaimana Rasulullah Saw dan generasi Islam pertama, generasi terbaik umat ini, menjalankan manajemen Ramadhan.
Untuk mendapatkan gambaran utuh dari manajamen Ramadhan Rasul Saw. ada empat situasi yang perlu kita perhatikan. Pertama, sebelum memasuki Ramadhan. Kedua, saat memasuki Ramadhan. Ketiga, setelah memasuki Ramadhan. Keempat, ketika memasuki 10 hari terakhir.
Pertama, sebelum memasuki Ramadhan
Para Sahabat dan generasi setelah mereka (Tabi’in) selalu merindukan kedatangan Ramadhan. Mereka selalu berdoa agar diberi Allah kesempatan menemui Ramadhan sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba. Imam Malik, misalnya, sering minta izin pada Sahabatnya setelah pengajian untuk mempelajari bagaimana Sahabat memenej kehidupan ini, termasuk hal-hal yang terkait dengan Ramadhan mereka. Kendati Beliau tidak hidup bersama para Sahabat, namun Beliau mampu meneladani mereka melalui sejarah hidup mereka.
Ma’la Bin Fadhal berkata : Dulu Sahabat Rasul Saw. berdoa kepada Allah sejak enam bulan sebelum masuk Ramadhan agar Allah sampaikan umur mereka ke bulan yang penuh berkah itu. Kemudian selama enam bulan sejak Ramadhan berlalu, mereka berdoa agar Allah terima semua amal ibadah mereka di bulan itu. Di antara doa mereka ialah : Yaa Allah, sampaikan aku ke Ramadhan dalam keadaan selamat. Yaa Allah, selamatkan aku saat Ramadhan dan selamatkan amal ibadahku di dalamnya sehingga menjadi amal yang diterima.
Dari sikap dan doa yang mereka lakukan, jelas bagi kita bahwa para Sahabat dan generasi setelahnya sangat merindukan kedatangan Ramadhan. Mereka sangat berharap dapat menjumpai Ramadhan agar mereka meraih semua janji dan tawaran Allah dan Rasul-Nya dengan berbagai keistimewaan yang tidak terdapat di bulan-bulan lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa para Sahabat dan generasi setelahnya memahami dan yakin betul akan keistimewaan dan janji Allah dan Rasul-Nya yang amat luar biasa seperti rahmah (kasih sayang), maghfirah (ampunan) dan keselamatan dari api neraka. Inilah yang diungkapkan Imam Nawawi : Celakalah kaum Ramadhaniyyin. Mereka tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan. Sungguh Rasulullah, Sahabat dan generasi setelahnya mengenal Allah sejak jauh-jauh hari sebelum Ramadhan dan di bulan Ramadhan pengenalan kepada Allah lebih mereka tingkatkan.
Kedua, saat memasuki Ramadhan
Saat hilal muncul di ufuk pertanda Ramadhan tiba, Rasul dan para Sahabat melihat dan menyambutnya dengan suka cita sambil membacakan doa seperti yang diceritakan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dalam hadits berikut :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ :« اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى ، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ
Dari Ibnu Umar dia berkata : Bila Rasul Saw. melihat hilal (anak bulan) dia berkata : Allah Maha Besar. Ya Allah, jadikanlah hilal ini bagi kami membawa keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman dan taufik kepada yang dicintaii Robb kami dan diridhai-Nya. Robbb kami dan Robbmu (hilal) adalah Allah. (HR. Addaromi).
Itulah contoh nyata dari Rasul Saw. dan para Sahabat ketika meyambut kedatangan Ramadhan. Bukan dengan hiruk pikuk pawai di jalanan sambil keliling kota memukul beduk dan sebagainya. Tidak pula dengan pesta petasan yang jelas-jelas menimbulkan keributan dan mubazir. Bukan pula dengan ajang promosi produk dan dan iklan diri agar dikenal dan dipilih masyarakat untuk jadi pejabat. Namun, keyakinan, pikiran, perasaan, kerinduan dan hati mereka tertuju hanya pada kebesaran Ramadhan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Dengan harapan, jika amal ibadah Ramadhan dijalankan dengan ikhlas dan khusyu’, mereka akan meraih rahmat, ampunan dan terbebas dari api neraka. Ketiga nikmat itu tidak akan ternilai harganya bagi mereka kendati dengan dunia dan seisinya.
Ketiga, setelah memasuki Ramadhan
Apa yang dilakukan Rasul dan para Sahabat setelah memasuki Ramadhan? Setelah memasuki bulan Ramadhan, sejak hari pertama dan sampai hari terakhir, Rasulullah dan para Sahabat meningkatkan kemampuan menahan diri dari berbagai syahwat, seperti syahwat telinga, syahwat mata, syahwat lidah, syahwat perut (makan dan minum), syahwat kemaluan, syahwat cinta dunia, syahwat kesombongan dan berbagai syahwat yang memalingkan mereka dari mengingat dan cinta pada Allah serta akhirat. Latihan mengendalikan dan menundukkan berbagai syahwat ini dilakukan sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari. Inilah inti shaum (puasa) Ramadhan yang diwajibkan Allah.
Apakah setelah sepanjang hari bergulat dengan dorongan-dorongan berbagai syahwat tersebut di malamnya digunakan untuk istirahat, makan, minum dan sebagainya? Ternyata tidak. Di malam harinya Rasulullah dan para Sahabat memanfaatkannya untuk qiyam (berdiri beramal ibadah) seperti shalat taraweh, berzikir, membaca dan tadabbur Al-Qur’an dan berbagai ibadah lainnya. Artinya, selama Ramadhan, Rasul dan para Sahabat benar-benar menfokuskan diri bertaqorrub kepada Allah melalu training manajemen syahwat dan sekaligus training manajemen ibadah. Dua hal inilah yang harus dimiliki oleh setiap hamba yang ingin mendapat ridha Allah di dunia dan bertemu dengan-Nya di syurga.
Aisyah meriwayatkan : Rasulullah adalah orang yang paling dermawan. Di bulan Ramadhan Beliau lebih dermawan lagi ketika bertemu Jibril. Jibril menemui Beliau setiap malam Ramadhan untuk mengajarkan (mudarosah) Al-Qur’an. Sebab itu, kederwawanan Rasul Saw. di bulan Ramadhan lebih kencang dan lebih merata dari angin. (HR. Bukhari).
Inilah contoh nyata dari Rasul Saw. dan para Sahabat ketika mereka memasuki bulan Ramadhan. Hampir tak satupun syahwat yang tidak dapat mereka tundukkkan dan kendalikan dan tak satupun kebaikan dan amal sholeh yang mereka tinggalkan. Ramadhan benar-benar menjadi sistem penyeimbang dalam hidup ini sehingga mereka berhasil terbebas dari pengaruh syahwat karena merekalah yang mengendalikannya. Pada waktu yang sama, mereka berhasil meningkatkan kualitas diri dengan berbagai amal ibadah yang mereka lakukan dalam rangka taqorrub ilallah. Dengan demikian tercapai janji Rasul Saw. Siapa yang shaum (puasa) di bulan Ramadhan dan dia mengetahui aturan mainnya (batas-batasnya), dia menjaga apa yang seharusnya dijaga maka akan dihapus dosa-dosa sebelumnya. (HR. Ahmad dan Baihaqi).
Keempat, ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadhan
Jika kita teliti prilaku hidup Rasul Saw. dan para Sahabat di bulan Ramadhan, kita menemukan berbagai keajaiban. Di antaranya ialah, saat memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Apa yang mereka lakukan sangat kontras dengan apa yang terjadi di negeri ini. 10 Hari terakhir Ramadhan mereka habiskan di masjid, bukan di pasar, tempat kerja, di pabrik, kunjungan daerah dan sebagainya.
Menurut presepsi dan prilaku kebanyakan masyarakat Muslim Indonesia, 10 terakhir Ramadhan itu adalah kesempatan berbelanja untuk mempersiapkan keperluan lebaran dan pulang kampung, kendati mengakibatkan harga-harga semua barang naik dan membubung. Anehnya, mereka ikhlas dan tetap semangat berbelanja. Sebab itu, mereka meninggalkan masjid-masjid di malam hari dan tumpah ruah ke tempat-tempat perbelanjaan sejak dari yang tradisional sampai ke mal-mal moderen.
Lalu apa yang terjadi? Berbagai syahwat cinta dunia tidak berhasil dikendalikan, dan bahkan cenderung dimanjakan di bulan yang seharusnya dikendalikan. Pada waktu yang sama, semangat beramal ibadahpun tidak terbangun dengan baik sehingga kehilangan banyak momentum dan keistimewaan yang dijanjikan Allah dan Rasulnya. Coba bayangkan, terhadap janji Allah yang bernama Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik dari 1.000 bulan saja belum tertarik? Jika tertarik, tentu mereka mengejarnya di masjid pada 10 hari terakhir Ramadhan dengan cara beri’tikaf di dalamnya secara penuh seperti yang dicontohkan Rasul Saw. Ini yang terjadi pada salah seorang teman ketika ditanya kenapa gak jadi i’tikaf? Dia katakan : saya sedang sibuk-sibuknya sosialisasi ke daerah. Lalu saya katakana : Mana yang lebih mahal menurut Rasulullah, i’tikaf di masjid 10 hari terakhir Ramadhan atau sosialiasi pencalegan Anda? Kemudian Anda bisa jamin umur Anda akan sampai pada 10 terakhir Ramadhan yang akan datang? Sungguh terkadang kita berlagak seakan lebih pintar, lebih hebat dan lebih sibuk berjuang dari Rasul Saw.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Abu Daud dan Ibnu Majah bahwa Rasul Saw. beri’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan. Pada tahun terakhir berjumpa Ramadhan, Beliau i’tikaf selama 20 hari. Kebiasaan I’tikaf ini diteruskan oleh para Sahabat dan istri-istrinya setelah peninggalan Beliau.
Inilah prilaku yang dibangun Rasul Saw. saat memasuki 10 hari terakhri Ramadhan dan diteruskan oleh para Sahabat dan istri-istrinya sepeninggalan Beliau.
Pertanyaannya adalah : Bukankah Rasulullah orang yang paling sibuk berdakwah dan mengurusi umatnya? Bukankah para Sahabat orang yang paling giat berdakwah dan berjihad di jalan Allah? Lalu, kenapa mereka bisa melaksanakan i’tikaf di 10 terakhir Ramadhan? Jawabanya ialah : itulah jalan yang harus ditempuh sebagai bagian dari sistem Allah yang menyampaikan hamba-Nya ke tingkat taqwa, tak terkecuali Rasulullah dan para Sahabatnya. Lalu bagaimana dengan kita? Sudah pasti jalannya sama jika menginginkan sampai ke pringkat yang sama (taqwa).
Sumber : http://www.eramuslim.com/