Entri Populer

Total Tayangan Halaman

Jumat, 28 Agustus 2009

SAYA INGIN MENYAMPAIKAN SESUATU

Assalamu`alaikum wr.wb..

Saya ingin menyampaikan sesuatu yg selama ini cukup mengganggu saya, semoga tulisan ini bisa membuat lega hati saya, dengan harapan akan dapat pencerahan. Selama ini saya selalu terganggu dengan keberadaan saya, sebetulnya saya malu mengungkapkan karena ini sebetulnya masuk ke ranah pribadi, dan saya sudah berusaha menahan isi hati ini, tapi ternyata saya belum mampu.



Apa kabar sahabat. Mudah2an sahabat senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, tak terasa tanggal 11 September 2009 nanti bertepatan dengan ulang tahun saya genap 1 tahun saya mendapat anugerah sakit seperti ini.
Sebenarnya saya sudah tidak sabar ingin segera masuk kerja dan aktif lagi, sih… Ingin mulai beraktivitas seperti dulu, bertemu teman, melayani mereka, menulis laporan, membuat proposal, terlibat dalam proses asesmen, perjalanan ke luar kota, dll. Tapi para senior menyatakan dengan tegas, “Istirahat aja dulu, biar pulihnya total. Tenang aja, ntar juga akan datang waktunya akan dibantai abis sama kerjaan…” Hehehe… I really miss that day. Kok bisa, ya?. Teman-teman yang lain pun sama senada.
Eiits… jangan salah. Tentu saja termasuk juga di dalamnya ‘keindahan’ yang lain seperti update berita terakhir (mirip-mirip dengan bergosip, tapi konon kabarnya sih untuk tujuan mulia…), saling nyela dengan tega, dan tak ketinggalan: aneka hidangan khas seputaran warung pojok. Tentang hal terakhir ini, saya benar-benar kangen dengan singkong goreng yang merekah di pagi hari, nasi soto, blablabla… Belum lagi kalau ditambah dengan penganan yang dibawa dari rumah (kadang saya bawa bekal sendiri).
Nikmat luar biasa? Mungkin relatif. Sepertinya rasa cihuy itu datang dari ritual sharing yang secara tak tertulis berlaku. Sarapan semangkuk nasi soto dan segelas teh tawar Benar-benar finger lickin’ good!. Bisa jadi ini sangat membantu untuk meringankan beban syaraf, sehingga lebih rileks. Kesulitan dan ketegangan bukan tidak ada. Tantangan tugas, adaaa saja. Siapa takut? Hajar bleh…
Serius, deh. Saat ini saya benar-benar kangen beraktivitas itu. Satu lagi nikmat dariNya buat saya: sahabat-sahabat, para senior dan lingkungan yang sangat menyenangkan. Seperti keluarga besar buat saya, dengan pembelajaran dan pengembangan diri yang dinamis. Peran mereka sangat signifikan dalam membantu perjuangan saya dan keluarga, saat berjibaku lebih dari 11 bulan ini, di rumah sakit juga di rumah. Mereka ada di saat perasaan 1001: cemas, lega, marah, sedih, jenuh, berharap, pesimis, kecewa, dan seterusnya.
Sahabat, saya sekarang ini benar2 sedang merasa bingung dan terpuruk, merasa kalut banget akan masalah yang sedang saya hadapi. Saya bingung, masalah yang saya hadapi sekarang rumit banget, dan benar2 membutuhkan orang yang memang mengerti tentang ini.

Begini.
Setiap orang pasti pernah mengalami saat-saat sulit dalam menjalani kehidupannya. Kadang kesulitan itu memang membuat seseorang frustasi, bingung, stres, panik, putus asa dan sikap negatif lainnya. menyebabkan mereka gampang gelisah, tegang, dan marah. Mereka menjalani kehidupan ini dengan beban masalah dan tekanan batin yang luar biasa beratnya, sehingga menjauhkan mereka dari kebahagiaan hidup. Seperti yang saya alami ini bagaimana tidak, dalam kondisi sakit tak berdaya seperti ini saya masih harus menanggung beban keluarga yang cukup besar.
Mungkin gak perlu di tanya, bagaimana keadaan keluarga saya saat ini. Sekarang keluarga saya sedang sakit dalam artian bukan sakit fisik, tapi lebih kepada batin. Kebetulan mereka semua (anak-anak) masih butuh biaya yang banyak (untuk biaya transportasi dan uang sekolah anak, bayar listrik, PAM, telepon, dll) sementara saya sudah tidak ada pemasukan penghasilan, dan tabungan saya sudah habis pada bulan ke 4 semenjak sakitnya saya.

Allahuakbar, Allah Maha Besar, Maha Suci Allah, saya masih diberi kekuatan untuk gak melakukan hal2 yang dimurkai Allah dan akhirnya saya bersama keluarga saya sepakat, dan sama2 ber-komitmen untuk menjalani kehidupan ini dengan apa adanya.

Akhirnya dengan berat hati, walaupun sulit memutuskan, tapi Alhamdulillah keluarga saya akhirnya memberi restu kepada saya untuk menjual apapun yang bisa kami jual untuk mempertahankan kehidupan ini.

Apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya benar2 bingung sekarang. Saya kalut banget. Saya saat ini cuma bisa berlindung dibalik do'a, dan itupun jujur saja belum bisa membuat hati saya lebih tenang. Mungkin saya bener2 harus belajar dengan apa yg namanya "IKHLAS". Tapi saya benar2 sulit menerima ini semua. Sudah hampir 3 bulan ini saya sangat terpuruk sekali. Kalau obat memang saya pilih tidak menebus karena harganya mahal dan tidak terbeli (yang ditanggung askes hanya obat tertentu saja), tapi untuk kebutuhan pokok seperti beli beras sudah tidak mungkin saya lakukan (gaji saya minus / bisa di cek pada bendaharawan gaji, insentif dan lauk pauk ataupun penerimaan lain mulai januari 2009 kemarin sudah tidak lagi saya dapat) jadi saya menjalani hidup tanpa pendapatan, tanpa pemasukan, tanpa uang sesenpun, tanpa tabungan sedikitpun (bahkan sudah di close / ditutup pihak bank karena lama tidak terisi) sulit bagi saya untuk melakukannya apalagi sudah tidak ada barang lagi yang bisa saya jual (terakhir motor anak saya yang tiap hari digunakan untuk berangkat dan pulang kuliah / saya jual setelah sekian kali hanya mampu membayar bunga dan denda karena tidak berdaya untuk menebusnya).

Saya takut banget sekarang ini, takut akan adanya 1001 pengaruh dari luar yang dapat menggoyahkan pendirian keluarga saya akan komitmen kami sebelumnya.

Mohon pencerahan dan petunjuk akan apa yang harus saya lakukan sekarang. Sudah terlalu lama saya menunggu kesembuhan penyakit saya yang tak kunjung datang, apakah kesabaran saya akan membuahkan hasil yang baik?

Tiap sholat saya selalu meneteskan air mata, saya merasa hina banget di hadapan sang khalik, saya merasa berdosa sekali. (saat ini saya hanya bisa sholat sambil duduk)

Saya banyak2 berdoa sama Allah SWT, mudah2an tetap diberi kesabaran, dan semoga Yang Maha Kuasa memudahkan saya untuk tetap dapat membina sebuah keluarga yang shakinah, mawadah, warohmah, sebuah keluarga yg Engkau ridhai ya Allah. Amien ya Robbal'Alamin.

Saya juga begitu takut kuliah & sekolah anak2 saya, tiba2 berhenti ditengah jalan mengingat per-ekonomian keluarga saya yang melemah, sehingga saya harus kehilangan cita2 saya, Allhamdulillah saudara dan tetangga ada saja yang memberi beras ataupun sayur, walaupun bisa makan, tapi yang jelas saya sekeluarga menanggung beban dan malu dengan semuanya.

Saat ini yang saya lakukan hanya tetap Percaya dan Mengucap Syukur Apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini, Saya yakin dan percaya bahwa Allah senantiasa turut bekerja untuk melepaskan saya dalam setiap kesulitan dan penderitaan. Sehingga dengan keyakinan tersebut saya bisa selalu mengucap syukur atas segala perkara yang terjadi dalam kehidupan saya.

Keyakinan atau iman inilah yang membuat saya terus bergerak, selangkah demi selangkah meskipun saya tidak bisa melihat ke mana arah jalan hidup saya menuju. Keyakinan akan pernyataan Allah memberi saya kekuatan untuk bergerak. Janji-Nya bahwa segala sesuatu adalah untuk mendatangkan kebaikan memberi saya harapan bahwa setiap langkah saya — sekecil apa pun – semakin mendekatkan diri saya pada rencanaNya yang terbaik untuk saya.

Kesulitan dan penderitaan janganlah membuat kita berhenti dan menyerah, karena jika kita berhenti maka berarti kematian.

Saya terus berusaha maju selangkah demi selangkah. Saya menyadari berhenti berarti kematian bagi saya (ingat bahwa putus asa dan menyerah sama dengan kematian secara mental!). Dengan kombinasi antara prinsip terus bergerak (kalau tidak berarti mati) dan keyakinan akan pernyataan Allah dan janji kebaikan bagi kita saya terus melangkah satu per satu sampai akhirnya saya menemukan tempat atau kebaikan yang dijanjikanNya.

Kemudian sayapun merenung ……
Apa yang sesungguhnya yang membedakan seorang yang sukses dengan orang rata-rata? Bukan karena kepandaian, kekuatan, ataupun kekayaan yang dimilikinya, tetapi yang membuat seseorang sungguh-sungguh hebat adalah karena mereka mengetahui bagaimana caranya menanggung penderitaan yang tak terperikan dan bagaimana menahan beban yang tak tertanggungkan.

Marhaban ya Ramadhan. Marilah kita memohon ridho-Nya dalam bulan suci ini. Selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon maaf lahir dan batin.

Mohon pencerahan-nya sahabat. Saya bingung sekali saya harus bercerita kepada siapa lagi. Mohon maaf yang sebesar-besar nya apabila sahabat sedikit terganggu karena curahan hati saya yang kepanjangan, mudah2an sahabat selalu diberi kemudahan sama Allah SWT, amien. Terima kasih, sahabat.

wasallammu`alaikum wr. wb

Semarang, akhir Agustus 2009

Saya yang sedang sakit

NB : mohon maaf dengan sangat untuk jangan dipublikasikan kepada pihak manapun …


Baca Selengkapnya......

MANAJEMEN RAMADHAN ROSULLULLAH

Agar Ramadhan menjadi bulan rahmat, ampunan dan keselamatan dari neraka maka momentum yang penuh berkah ini perlu dijadikan sebagai momentum Training Manajemen Syahwat, dan sekaligus menjadi Training Manajemen Ibadah. Inilah yang dilakukan Rasul Saw. Sebab itu, kita perlu menelusuri bagaimana Rasulullah Saw dan generasi Islam pertama, generasi terbaik umat ini, menjalankan manajemen Ramadhan.


Untuk mendapatkan gambaran utuh dari manajamen Ramadhan Rasul Saw. ada empat situasi yang perlu kita perhatikan. Pertama, sebelum memasuki Ramadhan. Kedua, saat memasuki Ramadhan. Ketiga, setelah memasuki Ramadhan. Keempat, ketika memasuki 10 hari terakhir.

Pertama, sebelum memasuki Ramadhan

Para Sahabat dan generasi setelah mereka (Tabi’in) selalu merindukan kedatangan Ramadhan. Mereka selalu berdoa agar diberi Allah kesempatan menemui Ramadhan sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba. Imam Malik, misalnya, sering minta izin pada Sahabatnya setelah pengajian untuk mempelajari bagaimana Sahabat memenej kehidupan ini, termasuk hal-hal yang terkait dengan Ramadhan mereka. Kendati Beliau tidak hidup bersama para Sahabat, namun Beliau mampu meneladani mereka melalui sejarah hidup mereka.

Ma’la Bin Fadhal berkata : Dulu Sahabat Rasul Saw. berdoa kepada Allah sejak enam bulan sebelum masuk Ramadhan agar Allah sampaikan umur mereka ke bulan yang penuh berkah itu. Kemudian selama enam bulan sejak Ramadhan berlalu, mereka berdoa agar Allah terima semua amal ibadah mereka di bulan itu. Di antara doa mereka ialah : Yaa Allah, sampaikan aku ke Ramadhan dalam keadaan selamat. Yaa Allah, selamatkan aku saat Ramadhan dan selamatkan amal ibadahku di dalamnya sehingga menjadi amal yang diterima.

Dari sikap dan doa yang mereka lakukan, jelas bagi kita bahwa para Sahabat dan generasi setelahnya sangat merindukan kedatangan Ramadhan. Mereka sangat berharap dapat menjumpai Ramadhan agar mereka meraih semua janji dan tawaran Allah dan Rasul-Nya dengan berbagai keistimewaan yang tidak terdapat di bulan-bulan lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa para Sahabat dan generasi setelahnya memahami dan yakin betul akan keistimewaan dan janji Allah dan Rasul-Nya yang amat luar biasa seperti rahmah (kasih sayang), maghfirah (ampunan) dan keselamatan dari api neraka. Inilah yang diungkapkan Imam Nawawi : Celakalah kaum Ramadhaniyyin. Mereka tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan. Sungguh Rasulullah, Sahabat dan generasi setelahnya mengenal Allah sejak jauh-jauh hari sebelum Ramadhan dan di bulan Ramadhan pengenalan kepada Allah lebih mereka tingkatkan.

Kedua, saat memasuki Ramadhan

Saat hilal muncul di ufuk pertanda Ramadhan tiba, Rasul dan para Sahabat melihat dan menyambutnya dengan suka cita sambil membacakan doa seperti yang diceritakan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dalam hadits berikut :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ :« اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى ، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ
Dari Ibnu Umar dia berkata : Bila Rasul Saw. melihat hilal (anak bulan) dia berkata : Allah Maha Besar. Ya Allah, jadikanlah hilal ini bagi kami membawa keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman dan taufik kepada yang dicintaii Robb kami dan diridhai-Nya. Robbb kami dan Robbmu (hilal) adalah Allah. (HR. Addaromi).

Itulah contoh nyata dari Rasul Saw. dan para Sahabat ketika meyambut kedatangan Ramadhan. Bukan dengan hiruk pikuk pawai di jalanan sambil keliling kota memukul beduk dan sebagainya. Tidak pula dengan pesta petasan yang jelas-jelas menimbulkan keributan dan mubazir. Bukan pula dengan ajang promosi produk dan dan iklan diri agar dikenal dan dipilih masyarakat untuk jadi pejabat. Namun, keyakinan, pikiran, perasaan, kerinduan dan hati mereka tertuju hanya pada kebesaran Ramadhan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Dengan harapan, jika amal ibadah Ramadhan dijalankan dengan ikhlas dan khusyu’, mereka akan meraih rahmat, ampunan dan terbebas dari api neraka. Ketiga nikmat itu tidak akan ternilai harganya bagi mereka kendati dengan dunia dan seisinya.


Ketiga, setelah memasuki Ramadhan

Apa yang dilakukan Rasul dan para Sahabat setelah memasuki Ramadhan? Setelah memasuki bulan Ramadhan, sejak hari pertama dan sampai hari terakhir, Rasulullah dan para Sahabat meningkatkan kemampuan menahan diri dari berbagai syahwat, seperti syahwat telinga, syahwat mata, syahwat lidah, syahwat perut (makan dan minum), syahwat kemaluan, syahwat cinta dunia, syahwat kesombongan dan berbagai syahwat yang memalingkan mereka dari mengingat dan cinta pada Allah serta akhirat. Latihan mengendalikan dan menundukkan berbagai syahwat ini dilakukan sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari. Inilah inti shaum (puasa) Ramadhan yang diwajibkan Allah.

Apakah setelah sepanjang hari bergulat dengan dorongan-dorongan berbagai syahwat tersebut di malamnya digunakan untuk istirahat, makan, minum dan sebagainya? Ternyata tidak. Di malam harinya Rasulullah dan para Sahabat memanfaatkannya untuk qiyam (berdiri beramal ibadah) seperti shalat taraweh, berzikir, membaca dan tadabbur Al-Qur’an dan berbagai ibadah lainnya. Artinya, selama Ramadhan, Rasul dan para Sahabat benar-benar menfokuskan diri bertaqorrub kepada Allah melalu training manajemen syahwat dan sekaligus training manajemen ibadah. Dua hal inilah yang harus dimiliki oleh setiap hamba yang ingin mendapat ridha Allah di dunia dan bertemu dengan-Nya di syurga.

Aisyah meriwayatkan : Rasulullah adalah orang yang paling dermawan. Di bulan Ramadhan Beliau lebih dermawan lagi ketika bertemu Jibril. Jibril menemui Beliau setiap malam Ramadhan untuk mengajarkan (mudarosah) Al-Qur’an. Sebab itu, kederwawanan Rasul Saw. di bulan Ramadhan lebih kencang dan lebih merata dari angin. (HR. Bukhari).

Inilah contoh nyata dari Rasul Saw. dan para Sahabat ketika mereka memasuki bulan Ramadhan. Hampir tak satupun syahwat yang tidak dapat mereka tundukkkan dan kendalikan dan tak satupun kebaikan dan amal sholeh yang mereka tinggalkan. Ramadhan benar-benar menjadi sistem penyeimbang dalam hidup ini sehingga mereka berhasil terbebas dari pengaruh syahwat karena merekalah yang mengendalikannya. Pada waktu yang sama, mereka berhasil meningkatkan kualitas diri dengan berbagai amal ibadah yang mereka lakukan dalam rangka taqorrub ilallah. Dengan demikian tercapai janji Rasul Saw. Siapa yang shaum (puasa) di bulan Ramadhan dan dia mengetahui aturan mainnya (batas-batasnya), dia menjaga apa yang seharusnya dijaga maka akan dihapus dosa-dosa sebelumnya. (HR. Ahmad dan Baihaqi).

Keempat, ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadhan

Jika kita teliti prilaku hidup Rasul Saw. dan para Sahabat di bulan Ramadhan, kita menemukan berbagai keajaiban. Di antaranya ialah, saat memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Apa yang mereka lakukan sangat kontras dengan apa yang terjadi di negeri ini. 10 Hari terakhir Ramadhan mereka habiskan di masjid, bukan di pasar, tempat kerja, di pabrik, kunjungan daerah dan sebagainya.

Menurut presepsi dan prilaku kebanyakan masyarakat Muslim Indonesia, 10 terakhir Ramadhan itu adalah kesempatan berbelanja untuk mempersiapkan keperluan lebaran dan pulang kampung, kendati mengakibatkan harga-harga semua barang naik dan membubung. Anehnya, mereka ikhlas dan tetap semangat berbelanja. Sebab itu, mereka meninggalkan masjid-masjid di malam hari dan tumpah ruah ke tempat-tempat perbelanjaan sejak dari yang tradisional sampai ke mal-mal moderen.

Lalu apa yang terjadi? Berbagai syahwat cinta dunia tidak berhasil dikendalikan, dan bahkan cenderung dimanjakan di bulan yang seharusnya dikendalikan. Pada waktu yang sama, semangat beramal ibadahpun tidak terbangun dengan baik sehingga kehilangan banyak momentum dan keistimewaan yang dijanjikan Allah dan Rasulnya. Coba bayangkan, terhadap janji Allah yang bernama Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik dari 1.000 bulan saja belum tertarik? Jika tertarik, tentu mereka mengejarnya di masjid pada 10 hari terakhir Ramadhan dengan cara beri’tikaf di dalamnya secara penuh seperti yang dicontohkan Rasul Saw. Ini yang terjadi pada salah seorang teman ketika ditanya kenapa gak jadi i’tikaf? Dia katakan : saya sedang sibuk-sibuknya sosialisasi ke daerah. Lalu saya katakana : Mana yang lebih mahal menurut Rasulullah, i’tikaf di masjid 10 hari terakhir Ramadhan atau sosialiasi pencalegan Anda? Kemudian Anda bisa jamin umur Anda akan sampai pada 10 terakhir Ramadhan yang akan datang? Sungguh terkadang kita berlagak seakan lebih pintar, lebih hebat dan lebih sibuk berjuang dari Rasul Saw.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Abu Daud dan Ibnu Majah bahwa Rasul Saw. beri’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan. Pada tahun terakhir berjumpa Ramadhan, Beliau i’tikaf selama 20 hari. Kebiasaan I’tikaf ini diteruskan oleh para Sahabat dan istri-istrinya setelah peninggalan Beliau.

Inilah prilaku yang dibangun Rasul Saw. saat memasuki 10 hari terakhri Ramadhan dan diteruskan oleh para Sahabat dan istri-istrinya sepeninggalan Beliau.

Pertanyaannya adalah : Bukankah Rasulullah orang yang paling sibuk berdakwah dan mengurusi umatnya? Bukankah para Sahabat orang yang paling giat berdakwah dan berjihad di jalan Allah? Lalu, kenapa mereka bisa melaksanakan i’tikaf di 10 terakhir Ramadhan? Jawabanya ialah : itulah jalan yang harus ditempuh sebagai bagian dari sistem Allah yang menyampaikan hamba-Nya ke tingkat taqwa, tak terkecuali Rasulullah dan para Sahabatnya. Lalu bagaimana dengan kita? Sudah pasti jalannya sama jika menginginkan sampai ke pringkat yang sama (taqwa).

Sumber : http://www.eramuslim.com/

Baca Selengkapnya......

Jumat, 21 Agustus 2009

MENYIKAPI RAMADHAN

Menyikapi Ramadan

A Mustofa Bisri

’’Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.’’ (QS Al-Baqarah : 183)

Salah satu yang mungkin bisa dianggap sebagai tanda bahwa masyarakat kita adalah masyarakat religius ialah sikap kita menyikapi Ramadan. Kita begitu bersemangat menyambutnya saat Ramadan datang. “Marhaban Ya Ramadan!” kata spanduk-spanduk yang kita pasang di jalanan, “Selamat Datang Wahai Ramadan!”


Pesantren-pesantren, masjid-masjid, dan mushala-mushala sudah sejak dini mempersiapkan segala sesuatu bagi acara khusus Ramadan; mulai dari mempersiapkan sound system bagi syiar Islam, membuat kurikulum pengajian kilat, hingga penunjukan ustad-ustad.

Organisasi-organisasi ke-Islam-an, instansi-instansi, pers, dan lembaga-lembaga yang lain juga mulai sibuk mengatur jadwal kegiatan Ramadan. Bahkan sejumlah televisi yang biasanya hanya tertarik menayangkan persoalan-persoalan duniawi, menjelang Ramadan berlomba-lomba mengatur siasat bagaimana menayangkan program-program yang berbau akhirat.

Anak-anak muda kampung juga sudah membentuk grup musik dadakan untuk keperluan membangunkan sahur. Tidak itu saja; pesan-pesan SMS berisi tahniah Ramadan melalui telepon-telepon genggam pun bersliweran mirip zaman pemilihan umum kemarin.

Sebentar lagi langit Indonesia akan menyaksikan gemuruh dan gegap-gempitanya syiar Ramadan terpancar dari pengeras-pengeras suara surau dan masjid serta layar-layar kaca rumah-rumah. Bersaing dengan ramainya pengajian-pengajian bergilir yang diselenggarakan instansi-instansi pemerintah maupun swasta.
Kekuatan Mental

Semua itu kasat mata dan bisa dirasakan oleh indra kita. Pertanyaannya justru: bagaimana dengan yang tidak kasat mata? Apakah qalbu dan jiwa kita juga juga sesemangat itu menyambut datangnya bulan suci ini; sehingga siap untuk dididik dan dilatih oleh Ramadan untuk menjadi muslim dan mukmin yang lebih kuat?

Menurut Rasulullah SAW, orang mukmin yang kuat ”khairun wa ahabbu ilaa ’Llaahi min al-mu’mini ’dh-dha’iif...” (H.R. Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah r.a). “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.”

Tentu saja kuat di sini bukan dari segi fisik saja, namun terutama dari segi mental. Bukankah banyak sekali orang yang secara fisik kuat, namun secara mental sangat lemah? Bahkan ada orang yang menyembunyikan kelemahan mentalnya dengan menunjukkan kekuatan fisik.

“Laisa’sy-syadiidu bishora’ati.” (H.R. imam AL-Bukhari dan imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah r.a). Orang kuat tidak dilihat dari kemampuannya membanting orang. Orang yang benar-benar kuat ialah orang yang mampu menguasai diri saat marah.

Di bulan suci Ramadan inilah, kita secara intens dididik dan dilatih mengendalikan, mengekang, dan menguasai diri. Dimulai dari ’pelajaran’ paling awal: mengekang nafsu makan-minum dan kelamin, lalu ’naik klas’: mengekang nafsu-nafsu yang lain yang lebih sulit; seperti marah, benci, hasut, dsb. dst. . Kemudian pada akhirnya diharapkan ’lulus’: menjadi mukmin yang benar-benar kuat yang dicintai Tuhan. Menjadi raja di kerajaan diri.
Orang yang lemah tidak akan mampu menjadi raja di kerajaan dirinya sendiri; apalagi menjadi khalifah di muka bumi. Allah menghendaki kita menjadi khalifahNya di muka bumi ini, karena itu “wallahu a’lam. Ia memberikan kepada kita berbagai fasilitas dan kemudahan untuk dapat mengemban amanat itu. Satu di antaranya ialah kesempatan berlatih dan menggembleng diri sebulan suntuk di bulan suci ini.

Apabila kita tidak menggunakan kesempatan ini untuk meningkatkan kualitas dan kekuatan diri kita, maka Ramadan akan berlalu seperti bulan-bulan yang lain. Perikehidupan dan pergaulan kita akan tetap seperti yang sudah-sudah. Perikehidupan dan pergaulan yang lemah yang dipenuhi oleh sikap dan perilaku khas manusia-manusia lemah yang tidak pantas disebut khalifah Allah. Manusia-manusia yang dengan mudah ditaklukkan dan diperbudak oleh apa saja yang seharusnya dikuasainya; seperti harta, kedudukan, dan kepentingan-kepentingan lainnya. Manusia yang tidak menghargai dirinya sendiri. Semoga Allah mengampuni kita, merahmati kita, dan menolong kita untuk dapat menyikapi dengan benar RamadanNya ini. Amin. (76)

— Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang


Baca Selengkapnya......

HIKMAH RAMADHAN

MASYRU'IYAT PUASA RAMADHAN

"Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa "( QS Al-Baqarah : 183 ).

1. Puasa Ramadhan hukumnya Fardu `Ain
2. Puasa Ramadhan disyari'atkan bertujuan untuk menyempurnakan ketaqwaan



KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN DAN KEUTAMAAN BERAMAL DIDALAMNYA

1. Bulan Ramadhan adalah:
a. Bulan yang penuh Barakah.
b. Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup.
c. Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu.
d. Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni malam LAILATUL QADR.
e. Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma'shiyat agar menahan diri.

2. Keutamaan beramal di bulan Ramadhan antara lain :

a. Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan yang lewat sampai dengan Ramadhan berikutnya.
b. Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syafaa't.
c. Khusus bagi yang puasa disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk memasuki Jannah.

RUKUN PUASA

a. Berniat sejak malam hari
b. Menahan makan, minum, koitus (Jima') dengan istri di siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari (Maghrib),

Wanita yang sedang haidh dilarang puasa sampai habis masa haidhnya, lalu melanjutkan puasanya. Di luar Ramadhan ia wajib mengqadha puasa yag ditinggalkannya selama dalam haidh.

YANG DIBERI KELONGGARAN UNTUK TIDAK PUASA RAMADHAN

Orang Mu'min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak puasa Ramadhan, tetapi wajib mengqadha di bulan lain, mereka itu ialah :
a). Orang sakit yang masih ada harapan sembuh.
b) Orang yang bepergian ( Musafir ). Musafir yang merasa kuat boleh meneruskan puasa dalam safarnya, tetapi yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan diri untuk puasa.

Orang Mu'min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak mengerjakan puasa dan tidak wajib mengqadha, tetapi wajib fidyah (memberi makan sehari seorang miskin). Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan puasa karena :
a). Umurnya sangat tua dan lemah.
b). Wanita yang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya.
c). Karena mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya.
d). Sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh.
e). Orang yang sehari-hari kerjanya berat yang tidak mungkin mampu dikerjakan sambil puasa, dan tidak mendapat pekerjaan lain yang ringan.

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

a. Sengaja makan dan minum di siang hari. Bila terlupa makan dan minum di siang hari, maka tidak membatalkan puasa.
b. Sengaja membikin muntah, bila muntah dengan tidak disengajakan, maka tidak membatalkan puasa.
c. Dengan sengaja menyetubuhi istri di siang hari Ramadhan, ini disamping puasanya batal ia terkena hukum yang berupa : memerdekakan seorang hamba, bila tidak mampu maka puasa dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.
d. Datang bulan di siang hari Ramadhan ( sebelum waktu masuk Maghrib)

HAL-HAL YANG BOLEH DIKERJAKAN WAKTU IBADAH PUASA

a. Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun udara panas, demikian pula menyelam kedalam air pada siang hari.
b. Menta'khirkan mandi junub setelah adzan Shubuh.
c. Berbekam pada siang hari.
d. Mencium, mencumbu istri tetapi tidak sampai bersetubuh di siang hari (hukumnya makruh)
e. Beristinsyak (menghirup air kedalam hidung) terutama bila akan berwudhu, asal tidak dikuatkan menghirupnya.
f. Disuntik di siang hari.
g. Mencicipi makanan asal tidak ditelan.

ADAB-ADAB PUASA RAMADHAN
1. Berbuka apabila sudah masuk waktu Maghrib.
Sunnah berbuka adalah sbb :
a. Disegerakan yakni sebelum melaksanakan shalat Maghrib dengan makanan yang ringan seperti rutob (kurma muda), kurma dan air saja, setelah itu baru melaksanakan shalat.
b. Tetapi apabila makan malam sudah dihidangkan, maka terus dimakan, jangan shalat dahulu.
c. Setelah berbuka berdo'a dengan do'a sbb : Artinya : "Telah hilang rasa haus, dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap wujud insya Allah."

2. Makan sahur. Adab-adab sahur :
a. Dilambatkan sampai akhir malam mendekati Shubuh.
b. Apabila pada tengah makan atau minum sahur lalu mendengar adzan Shubuh, maka sahur boleh diteruskan sampai selesai, tidak perlu dihentikan di tengah sahur karena sudah masuk waktu Shubuh.

3. Lebih bersifat dermawan (banyak memberi, banyak bershadaqah, banyak menolong) dan banyak membaca al-qur'an
4. Menegakkan shalat malam/shalat Tarawih dengan berjama'ah. Dan shalat Tarawih ini lebih digiatkan lagi pada sepuluh malam terakhir (20 hb. sampai akhir Ramadhan). Cara shalat Tarawih adalah :
a. Dengan berjama'ah.
b. Salam tiap dua raka'at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka'at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka'at.
c. Dibuka dengan dua raka'at yang ringan.
d. Bacaan dalam witir : Raka'at pertama : Sabihisma Rabbika. Roka't kedua : Qul yaa ayyuhal kafirun. Raka'at ketiga : Qulhuwallahu ahad.
e. Membaca do'a qunut dalam shalat witir.

5. Berusaha menepati lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Bila dirasakan menepati lailatul qadar hendaklah lebih giat beribadah dan membaca : Yaa Allah Engkaulah pengampun, suka kepada pengampunan maka ampunilah aku.
6. Mengerjakan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir.
7. Menjauhi perkataan dan perbuatan keji dan menjauhi pertengkaran.

Cara i'tikaf:
a. Setelah shalat Shubuh lalu masuk ke tempat i'tikaf di masjid.
b. Tidak keluar dari tempat i'tikaf kecuali ada keperluan yang mendesak.
c. Tidak mencampuri istri dimasa i'tikaf.


Baca Selengkapnya......

Rabu, 19 Agustus 2009

TASAWUF DALAM DUNIA ISLAM

Oleh : Ihsan Maulana

Tasawuf dalam dunia Islam menduduki posisi tersendiri yang banyak berpengaruh dalam perjalanan peradaban Islam, perkembangan dan ketinggian posisinya melebihi dari kritikan pengamat dan penentang akannya.

Dunia pencarian Tuhan ini terus ber-evolusi menawarkan kebenaran instuitif yang sering dicari manusia yang berada dalam keputusasaan rasionalitas dan intelektual. Di saat pilihan rasionalitas tidak menemukan jawaban, di saat jawaban tidak lagi memuaskan, di saat rasionalitas terjebak dalam kegersangan rasa, maka pengetahuan intuitif sering kali menjadi alternative pilihan.


Tasawuf sendiri seperti dikemukakan dalam paragraph kedua, mempunyai warna sesuai dengan kondisi pelaku dan waktu yang melingkupinya. Memang terkadang sulit merasionalkan tasawuf dengan rasionalitas. Karena sebagian diantaranya adalah pengetahuan yang tidak dapat dibuktikan oleh pengetahuan rasionalitas yang begitu deskriptif dan definitif. Ia adalah pegetahuan subjektif yang masing-masing orang berbeda persepsi, satu titik yang bertolak belakang dengan objektifitas yang jadi ukuran utama kebeneran dalam rasio. Apapun definisinya tidak akan pernah bisa mengungkapkan hal yang sebenarnya. Layaknya definisi mawar tidak akan pernah bisa merasakan keindahan mawar itu sendiri. Jadi wajar jika dalam perjalanannya ia tetap menjadi ulasan sepanjang waktu, perdebatan para pakar, menghasilkan banyak sarjana, bukan saja dalam dunia Islam tapi juga dalam dunia orientalisme.

Tapi apapun versi tasawufnya, semua penganutnya percaya bahwa apa yang mereka percaya dan kerjakan adalah terdapat dalam al-Qur’an dan contoh nyata Muhammad, SAW.

Metode yang digunakan untuk memenuhi ambisi penulis dalam membidik evolusi tasawuf adalah dengan mengkaji litearatur-literatur (litterer research)yang berisi dan menyinggung tasawuf. Cara utama dan pertamanya ialah melihat tahun atau masa dimana para sufi dan ahli tarekat hidup. Tahun hidup para sufi dan ahli tarekat itu penulis urutkan satu-persatu dan dari sana penulis meneliti karakter ajaran dan prilaku yang dijalankan, setelah diketahui kareakter dari masa tertentu kemudian penulis jadikan sebuah periodesasi. Cara kedua yang penulis lakukan adalah melihat hubungan antara satu ajaran dengan ajaran lain, melihat pada masa siapa istilah tersebut muncul.

Dengan cara diatas, kemudian penulis bisa menemukan bagaimana evolusi tasawuf ke tasawuf selanjutnya dan evolusi tasawuf ke tarekat terjadi.

Embrio Tasawuf Dalam Islam (Asketisme)

Sejak zaman sahabat sudah dikenal beberapa sahabat yang dikenal memiliki kepribadian mengagumkan. Mereka menganut secara ketat konsep-konsep kesalehan dan wara’, yang paling terkenal adalah Ibnu Umar dengan cerita ruku’-nya yang terkenal yaitu saking lamanya ia ruku’ burung pun menganggapnya sebagai dahan pohon, Ali pun dikenal sebagai pemuda yang memiliki kesalehan yang luar biasa, begitu juga Abu Dzar al-Ghifari yang diterima periwayatan hadisnya oleh syi’ah. Umar, Khalifah kedua dalam sejarah Islam juga dikenal sebagai orang yang secara ketat dari kepemilikan harta, hingga tersebut bahwa ia hanya mempunyai dua baju, salah satunya mempunyai 70 tambalan. Disamping mereka, sungguh masih banyak lagi kisah-kisah mengagumkan dari para sahabat Nabi Islam.

Kesalehan tersebut disandarkan pada prilaku Nabi sendiri yang selalu hidup sederhana dan penuh dengan sifat-sifat mulia, yang dalam pandangan Aisyah,”akhlaquhu ka al-Qur’an yajri fi al-ard.” prilakunya bagaikan al-Qur’an yang berjalan di atas bumi. Sebuah ungkapan tentang contoh hidup (teladan) dari sebuah idealisme Islam. Sehingga wajar tatkala Muhammad wafat, banyak para sahabat yang yang merasa sedih kehilangan beliau, bahkan ketika haji wada’ (haji perpisahan)para sahabat telah banyak yang menangis karena kata-kata Nabi telah menandakan bahwa beliau akan meninggal.

Pada saat Tabi’in hidup pada abad pertengahan awal hijriah, memang telah ada sekelompok orang yang menyerahkan hidupnya hanya untuk Allah, diantaranya yang hidup pada 21-110 H/728 M adalah Hasan al-Bashri, dari kalangan Tabi’in Madinah tapi kemudian menetap di Bashrah, ia mengenalkan konsep zuhud menolak segala kesenangan dunia, khauf (takut)akan segala bentuk dosa, dan raja’ yaitu pengharapan akan mardlotillah, Hasan melihat bahwa umat Islam pada saat itu telah banyak terjebak pada kesenangan duniawi, kesenangan yang banyak didapat karena dunia Islam telah berada pada masa kemakmuran, para pejabatnya banyak terbuai, mereka menghiasi dirinya dengan kemegahan dan kemewahan yang tidak dicontohka oleh Nabi.

Ia membentuk sebuah majlis dan mewariskan ajaran-ajarannya pada murid-murid dalam majlisnya yang terletak di Bahsrah. Jadi wajar jika kemudian Bashrah menjadi cluster perkembangan tasawuf tahap awal.

Selain Hasan al-Basri, tokoh sufi terkenal lainnya adalah Rabi’ah al-Adawiyah yang lahir pada 95H/713M di Basrah, ia terkenal dengan Hubb Allah-nya, sufi perempuan pertama yang terkenal ini mengenalkan konsep hub allah dalam pengertian yang kuat dan emosional. Memang istilah hubb bisa kita temukan dari hadis-hadis Nabi, tapi konsep hubb dalam Rabi’ah al-Adawiyah telah mengantarkannya pada esoteric cinta. Ia meninggal pada 185H/801M dalam kesendiriannya di dalam gua yang selama ini menjadi tempatnya berasyik masyuk dengan Sang Tuhan.

Tidak dijelaskan apakah Rabi’ah pernah berguru pada Hasan al-Bashri, tapi beberapa sejarawan ada yang mencatatnya telah pernah bertemu dengan Hasan al-Bashri, tapi tentu saat itu usia Rabiah masihlah sangat muda. Jika ia bertemu pada tahun 110 pada akhir masa al-Bashri tentu Rabiah masih berusia 15 tahun. Tapi yang jelas menurut sejarah ia berguru pada Sufyan al-Tsauri (97-161 H), yang juga salah seorang zahid generasi awal.

Tapi terus terang pada masa diatas penggunaan nama sufi masih belum penulis temukan kecuali pendapat Abd al-Rahman al Jami yang mengatakan bahwa pada masa ini telah ada seorang zahid bernama abu Hasyim al-Kufi (w.776 M) yang hidup di kufah telah disebut sebagai sufi,1 tapi pendapat ini tidak sesuai dengan pendapat kebanyakan pengamat sejarah Islam, jadi wajar jika sebagian sarjana Islam mengistilahkan masa diatas sebagai masa asketisme dan prilakunya disebut dengan zahid atau apa yang penulis sebut periode ini sebagai periode embrio tasawuf.

Tasawuf Awal dan Perkembangan

Pada masa Abbasiyah telah hadir Dzu al-Nun al-Mishri, ia dilahirkan di Mesir pada tahun 190-an Hijriah, dikenal sebagai pengkritik prilaku ahli hadis-Ulama fiqh, Hadis, dan teologi- yang dinilai mempunyai perselingkuhan dengan duniawi, sebuah kritikan yang membuat para Ahlu al-Hadist kebakaran jenggot dan mulai menyebut al-Mishri sebagai Zindiq, pada tingkat penolakan yang kuat oleh ahlu al-hadist membuat ia memutuskan untuk pergi ke Baghdad yang saat itu dipimpin oleh khalifah al-Mutawakkil, setelah ia diterima oleh khalifah dan dikenal dalam lingkungan istana, pihak Mesir pun menjadi segan kepadanya, al-Mishri dikenal sebagai orang pertama yang mengenalkan maqamat dalam dunia sufi dan telah dikenal sebagai sufi yang dikenal luas oleh para peneliti tasawuf. Pemikirannya menjadi permulaan sistematisasi perjalanan ruhani seorang sufi. Ia meninggal pada tahun 245 H di Qurafah Shugra dekat Mesir.

Setelah al-Misri, datang seorang sufi bernama Surri al-Saqathi pada 253 H, ia mengenalkan uzlah-uzlah yang sebelumnya hanya dikenal sebagai tindakan menyendiri secara personal, dikembangkan al-Saqathi menjadi “uzlah kolektif”, uzlah yang ditujukan untuk menghindari kehidupan duniawi yang melenakan ataupun kehidupan duniawi yang penuh degan pertentangan, intrik dan pertumpahan darah. Pada masa-masa diatas telah mulai dikenal istilah sufi di beberapa kalangan, sebuah sebutan bagi mereka yang menghindari secara ketat terhadap kesenangan duniawi dan memilih untuk memfokuskan diri pada perkara uhkrawi (kelak konsep uzlah inilah yang banyak dianut oleh tasawuf sunni dikemudian hari).2

Abu Yazid al-Bistami pada 260 H/873 M, seorang sufi Persia yang mulai mengenalkan konsep ittihad atau penyatuan asketis dengan Tuhan, penyatuan tersebut menurutnya dilalui dengan beberapa proses, mulai fana’ dalam dicinta, bersatu dengan yang dicinta, dan kekal bersamanya. wajar jika al-Bistami dianggap oleh Nicholson sebagai pendiri tasawuf dengan ide orisinil tentang wahdatul wujud di timur sebagaimana theosofi yang meruapakan kekhasan pemikiran Yunani.3

Pengaruh Abu Yazid saat itu sangat luas bukan hanya di dunia muslim tapi menembus hingga batas-batas agama. Tapi tentu ungkapan-ungkapan al-Bistami telah menghadirkan pertentangan dengan Ulama’ Hadis, mereka mengcam pandangan-pandangan pantheisme al-Bistami yang di anggap sesat.

Pasca al-Bishtami, al- Junaid pada 297 H/909 M hadir dengan coba mengkompromikan tasawuf dengan syariat,4 hal ini ia lakukan setelah melihat banyaknya pro-kontra antara sufi dan ahlu al-hadis5 di masanya, lagi pula al-Junaid juga mempunyai basik sebagai seorang ahli hadis dan fiqh. Dengan apa yang dilakukannya, al-Junaid berharap kalangan ortodoksi Islam tidak menghakimi kaum tasawuf sebagai kaum yang sesat. Dan rupanya al-Junaid berhasil, minimal ia telah mengubah cara pandang kalangan ortodoksi terhadap tasawuf. Tampil bersama dengan al-Junaid, al-Kharraj (277 H) yang juga menelurkan karya-karya kompromistis antara ortodoksi Islam dan tasawuf.

Al-Hallaj, murid al-Junaid yang hidup pada 244-309 H/858-922 M hadir dengan lebih berani dan radikal, sufi yang juga pernah berguru pada para guru sufi di bashra ini hadir dengan konsep hulul yaitu konsep wahdatul wujud dalam versi yang lain, jika al-Bistami memulainya dengan fana’ fillah, maka al-Hallaj mengemukakan pemikiran al-hulul yang berangkat dari dua sifat yang dipunyai manusia yaitu nasut dan lahut dengan cara mengosongkan nasut dan mengisinya dengan sifat lahut maka manusia bisa ber-inkarnasi dengan Allah atau yang terkenal dengan istilah hulul, dan seterusnya. Al-Hallaj tidak memakai tedeng aling-aling dalam menceritakan pengalaman spiritualnya dalam khalayak umum, baginya yang ada hanyalah Allah, tidak ada sesuatu pun yang harus ditutupi dari sebuah kebenaran, baginya kecintaan pada Allah dan “persetubuhan” dengan Allah dapatlah diraih, bahkan saat al-Hallaj dipasung ia sempat berkata,”Ya Allah ampunilah mereka yang tidak tahu, seandainya mereka tahu tentu mereka tidak akan melakukan hal ini”.6

Para sufi-sufi diatas kemudian diklasifikasikannya sebagai sufi falsafi dan sufi amali akhlaqi, diantara yang termasuk tasawuf falsafi adalah al-Hallaj, al-Farabi, dan al-Bistami, dan diantara yang menganut tasawuf amali adalah al-Junaid dan al-Kharraj7. Kaum falsafi biasanya diidentikkan dengan konsep sakr (kemabukan) dan isyraqiyah (pancaran), adapun tasawuf amali atau akhlaqi biasanya diknal dengan konsep sahw (ketenangan hati) dan zuhd.8

Tasawuf Masa Kematangan

Evolusi dunia tasawuf masih terus berlangsung dalam mencari bentuknya, pengalaman-pengalaman esoteric dan asketis diceritakan dan dirangkai secara ilmiah. Dipadukan dengan justifikasi-justifikasi ortodoksi.

Pada masa al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M), istilah-istilah tasawuf telah mendapatkan definisinya, ketika seorang sufi menyebut satu istilah, maka yang lainnya akan segera paham dengan apa yang dimaksud. Masa ini adalah masa titik puncak dimana tasawuf telah menemukan bentuknya. Menjadi seorang sufi pada masa ini tidaklah semudah menjadi sufi pada masa awal. Menjadi sufi pada masa ini haruslah melalui prasyarat-prasyrat yang telah dibangun oleh Ulama’-Ulama’ sebelumnya, terutama hal ini Nampak pada tradisi tasawuf amali yang banyak berlaku di kalangan sunni, sedangkan di kalangan syi’i pengaruh itu dapat kita temui hanya pada tataran pemikiran mulai dari neo-platonisme hingga menjadi theosofi pancaran/pencahayaan.

Al-Ghazali hadir menawan siapa saja yang melihatnya, ia menyerang budaya theosofi falsafi yang dianut oleh banyak para Filosuf dan sufi falsafi. Seperti halnya al-Junaid ia juga mencoba menarik kembali budaya-budaya sufistik ke dalam ortodoksi Islam, ia mengenalkan konsep ma’rifah sebagai jalan tengah pantheisme yang terjadi pada kaum falsafi. Banyak buku yang dilahirkannya, tapi petunjuk besarnya adalah kitab ihya’ ulum al-din yang ditulis mendekati akhir hidupnya di kota Makkah, karyanya yang paling tebal dan memuat apa saja yang harus dilakukan oleh seorang pencari Tuhan. Al-Ghazali menandai dimana era tasawuf dapat diterima secara luas di kalangan sunni tanpa rasa takut dihukum penguasa.9 Tasawuf dianggap sebagai jalan alternative yang begitu digandrungi.

Tapi pada saat itu pelembagaan amaliah-amaliah dalam pengajaran tasawuf belumlah terjadi. Amaliah dilakukan dengan fleksibel dan lebih berorientasi pada makna. Karangan-karangan Ulama’ masih diangap sebagai sebuah teori dalam ilmu sosial dan belum dianggap sebagai hukum layaknya dalam ilmu fisika.

Para murid yang berpindah-pindah guru setelah menyelesaikan suatu disiplin limu masih sesuatu yang lazim dilakukan. Tapi pada saat banyak tertariknya msyarakat luas akan dunia tasawuf dengan berbagai faktornya membuat para guru sufi merasa perlu untuk tetap memperhatikan perkembangan para murid yang berada dalam bimbingannya. Murid bimbingan yang awalnya hanya beberapa atau beberapa puluh, pada masa ini telah mekar menjadi beberapa ratus bahkan ribu hingga membuat para masayikh mengutus dan memercayakannya menjabat sebagai wakil dirinya di beberapa kesempatan dan tempat. Dari sini kemudian berlanjut pada madhab tasawuf guru siapa yang dianut.

Kristalisasi Tasawuf ke Tarekat

Tuntunan al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-din dan Bidayah al-Hidayah rupanya telah diterjemahkan oleh para pengikut di sekitarnya dengan kelahiran amaliah-amaliah yang memerlukan panduan guru (syaikh). Jalan tasawuf biasanya diikuti dalam konteks kelompok. Kelompok para salikin (pencari Tuhan) yang mengitari Syaikh-nya, hal ini biasa disebut sebagai halaqah: Lingkaran. Para anggota halaqah berhubungan erat sebagai sesama musafir di jalan menuju Tuhan. Pada akhirnya ligkaran-lingkaran awal ini bergabung membentuk tarekat: jalan, persaudaran.10

Tarekat-tarekat itu sendiri muncul beranjak dari sebuah kesadaran membuat sistematika taqarrub kepada Allah dan dari sebuah kesadaran yang timbul dari para syeikh-Syeikh tarekat yang merasa perlu memberi sebuah thariqah pada murid-murid tarekat, sebuah jalan yang dianggap sebagai bentuk implementasi pemikiran tasawuf. Dari sana kemudian para masayikh memberikan binaan kepada muridnya dalam metodologi pencapaian makrifat.

Dari sana pula kemudian timbul bagaimana seorang murid harus memulai pencariannya untuk menemukan wujud Allah, kemudian diatur pula tentang bagaimana adab murid terhadap guru, juga bagaimana tatacara berdzikir pada Allah. Abu Sa’id Ibn Abi al-Khayr dianggap sebagai sufi petama yang menyusun aturan-aturan peribadatan dan menyusun kitab etika kehidupan komunal.11

Tarekat pertama yang berdiri secara resmi dalam dunia Islam adalah tarekat qadiriyah dengan syeikh agungnya Muhibbin Abu Muhammad Abdul al-Qodir al-Jilani pada 1166 M,12 setelah qadiriyah hadir tarekat rifaiyah yang didirikan oleh Ahmad Ar-Rifa’I (1175 M), tarekat Suhrawardi yang dinisbatkan pada Abu Nadjib al-Suhrawardi secara defacto didirikan oleh kemenakannya Umar al-Suhrawardi (1145-1234 M), tarekat maulawiyah menjadi terekat keempat yang muncul, tarekat ini muncul di Anatolia, didirikan oleh penggubah puisi mistik agung Jalaluddin al-Rumi (1273 M), syadiliyah menjadi terekat yang didirikan selanjutnya oleh Ali al-Shadhili (1256 M)-dari tarekat syadiliyah ini kemudian pada abad 15 berdiri tarekat isawiyah-, berlanjut ke tarekat badawiyah yang muncul di selatan Mesir didirikan oleh Ahmad Badawi (1274 M), naqsyabandiyah yang didirikan oleh Muhammad bin Muhammad Bahauddin al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi yang hidup pada 717-791 H/1318-1389 M menjadi terkat yang muncul setelah tarekat-tarekat sebelumnya, tarekat syattariyah yang didirikan oleh Abdullah al-Syattar, tarekat sanusiyah yang dinisbatkan pada Sidi (Sayyidi) Muhammad bin Ali al-Sanusi, seorang syaikh dari Algeria (1791-1859 M) yang berkembang luas di Afrika Utara.13

Sebagian tarekat diatas banyak dianut di daerah Asia Tengah dan Asia Tenggara termasuk beredar luas di Indonesia bahkan ada yang menfusikan menjadi tarekat qadiriyah-naqsyabandiyah, yaitu gabungan antara tarekat qadiriyah dan naqsyabandiyah.

Ada yang bertanya mengapa bukan tarekat taifuriyah yang notebene dinisbatkan pada tokoh sebelum orang-orang diatas, hal itu karena dalam terekat taifuriyah tidaklah didirikan oleh orang yang menjadi nisbat dalam nama tarekat tersebut tetapi didirikan oleh keturunannya ataupun oleh muridnya yang hidup setelah tokoh yang menjadi nisbat itu meninggal, atau tepatnya setelah kehidupan tarekat marak di dunia Islam.

Mereka rata-rata berbicara tentang tahapan-tahapan (maqamat-maqamat) yang harus dilalui seorang murid seperti apa yang telah penulis kemukakan diatas. Metode pencapaian Tuhan yang diterapkan oleh masayikh tersebut telah secara tidak langsung telah menelurkan lembaga-lembaga terekat yang menaungi para pengikut tarekat yang terdiri dari Syaikh, Murid, dan funduq (tempat penginapan) untuk melatih para murid tarekat dalam pencapaian menuju Tuhan. Dan biasanya bertempat di pedesaan atau pegunungan.

Periodesasi tarekat ini oleh Georges C. Anawati dipandang secara garis besar sebagai masa kemunduran gerakan sufisme. Karena bagi Anawati, pada masa ini secara garis besar tidak ada lagi ide yang orisinil yang muncul dari dunia tasawuf.14

Kesimpulan

Tasawuf berawal dari kesederhanaan dan kesalehan yang ditunjukkan dalam kehidupan Muhammad SAW dan para sahabatnya, sikap ini pada masa Umawiyah berkembang menjadi asketisme yang menekankan prilaku zuhd, khauf serta mahabbah oleh beberapa orang.

Generasi kedua kemudian lebih intens lagi dalam mensistematisir kualitas hubungannya dengan sang pencipta, hal itu kemudian menjadi penanda lahirnya tasawuf, dunia orang-orang yang berasyik masyuk dengan dunia spiritual keagamaan, tasawuf awal mengenalkan konsep uzlah kolektif kemudian pula dikenal maqamat-maqamat, setelah itu dikenal musyahadah kemudian dikenal wahdatul wujud, terus berkompromi dengan syariat menjadi mukasyafah. Dan kemudian mengkristal menjadi tarekat sebagai jalan untuk mereka yang ingin mencapai Tuhan dengan para syeikh-nya yang menjadi pembimbing.

Tentu, penyelidikan ini bukanlah penyelidikan yang final, studi yang lebih intens bisa dilakukan untuk menguak tabir evolusi tasawuf dalam dunia Islam, penelitian dapat dilanjutkan pada bagaimana sebuah pemikiran ber-metamorfosa, bagaimana pula pengaruh wilayah dan kehidupan para sufi berpengaruh terhadap jalan pemikirannya. Karena penulis beranggapan bahwa sebuah pemikiran tidak mengkin langsung mempunyai bentuk jika maternya tidak ada. Jadi pasti ada materi dan bentuk awal yang melandasi setiap pemikiran para sufi dan bagaimana ia mencerna zamannya dalam pemikirannya, jadi ada semacam keterkaitan pemikiran dengan pemikiran lain dan juga yang paling penting adalah pengalaman sufistik yang dialami oleh para sufi.

Yang perlu digali lagi adalah gerakan-gerakan yang terdapat dalam tarekat bagaimana ia bermula dan bagaimana pula ia dianggap sebagai sebuah riual dan kebenaran dalam mencari Tuhan. Bagaimana pula terdapat perbedaan yang sangat kontras antara gerakan satu tarekat dengan gerakan tarekat lain.

DAFTAR PUSTAKA

al-Jami, Abd al-Rahman, Nafahat al-Uns min Hadarat al-Quds:pancaran kaum sufi, ter. Kamran As’ad Irsyady,ed. Bioer R. Soenardi, Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2003

Ensiklopedi Islam, Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam jld.5, Ikhtiar Baru Van Houve, 1997, cet.4

Syukur, Amin, Menggugat Tasawuf, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999

Lammens, H,Islam, Beliefs and Institutions,New Delhi: Oriental Bokks, 1979.

Siregar, Rivay, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Klasik, Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2000

Anawati, Georges C, Philosophy, theology, and mysticism, dalam Legacy of Islam, ed. Joseph Schaht, Oxford: Oxford University Press, 1974

Sviri, Sara, Demikianlah Kaum Sufi Berbicara, Bandung: Pustaka Hidayah, 2002

Yafie, Ali, Syariah, Thariqah dan haqiqah, dalam kumpulan Artikel Yayasan Paramadina, Budhi Munawar Rachman (ed),Kontktualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, Jakarta:Paramadina Press,tt

Lapidus, Ira M, Sejarah Sosial Umat Islam , Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999

1 Abd al-Rahman, al-Ja>mi, Nafahat al-Uns min Hadarat al-Quds:pancaran kaum sufi, ter. Kamran As’ad Irsyady,ed. Bioer R. Soenardi(Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2003), 3

2 Kata uzlah juga dikenal di kalangan tasawuf falsafi, uzlah dalam pandangan ini mengandung pengertian sebuah usaha untuk mencapai nalar rasional. Uzlah tipe ini dikemukakan oleh Ibnu Bajjah.Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam jld.5(Ikhtiar Baru Van Houve, 1997, cet.4), 154

3 Amin Syukur, Menggugat Tasawuf(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999),33

4 H.Lammens,Islam, Beliefs and Institutions,(New Delhi: Oriental Bokks, 1979), 126

5 Istilah ahli hadis pada masa itu tidak hanya dipakai untuk mereka yang memang punya spesifikasi hadis tapi juga para ulama fiqh, yang menyandarkan pendapatnya pada teks-tkes al-qur’an dan al-hadis.

6 Al-Hallaj dipasung oleh pemerintahan dinasti Abbasiyah pada tahun 923 M atas tuduhan paham sesat dan atas tuduhan terlibat dengan aliran syi’ah qaramiyah yang menentang dinasti Abbasiyah. Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam jld.5(Ikhtiar Baru Van Houve, 1997, cet.4), 74. Lih. Pula Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999), 172

7 Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Klasik(Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2000)69-141

8 Georges C. Anawati, Philosophy, theology, and mysticism, dalam Legacy of Islam, ed. Joseph Schaht(Oxford: Oxford University Press, 1974), 368

9 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam jld.2(Ikhtiar Baru Van Houve, 1997, cet.4),28

10 Sara Sviri, Demikianlah Kaum Sufi Berbicara (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), 207

11 Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, 258

12 Ali YAfie, Syariah, Thariqah dan haqiqah, dalam kumpulan Artikel Yayasan Paramadina, Budhi Munawar Rachman (ed),Kontktualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah(Jakarta:Paramadina Press,tt),181. Tapi ada pula yang berpendapat bahwa tarekat qadiriyah jauh didirikan setelah Abdul Qadi>r al-Jila>ni meninggal. Tepatnya pada abad kemepat belas Masehi. Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, 260

13 H.Lammens,Islam, Beliefs and Institutions,136-137

14 Geoges C. Anawati, Philosophy, theology, and mysticism, 368


Baca Selengkapnya......